Teknik Sampling Contoh Padat Berdasarkan SNI 19-0428-1998
Di Indonesia, acuan resmi untuk hal ini tertuang dalam SNI 19-0428-1998 tentang Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan, yang merupakan revisi dari SNI 19-0428-1989. Artikel ini akan mengupas standar tersebut secara sistematis, mulai dari istilah dasar, peralatan, prosedur pengambilan contoh, hingga teknik pembagian contoh yang dikenal dengan metode kuartering (*quartering*).
Mengapa Sampling Itu Penting?
Standar ini disusun bukan sekadar formalitas administratif. Tujuannya mencakup beberapa hal krusial:
- Melindungi konsumen dari sisi kesehatan dan keselamatan
- Melindungi produsen dari klaim yang tidak berdasar
- Menunjang perkembangan industri hasil pertanian
- Mendukung kegiatan ekspor non-migas
Singkatnya, contoh yang diambil secara tidak representatif dapat menyesatkan hasil uji—baik merugikan konsumen (produk cacat lolos uji) maupun merugikan produsen (produk baik dinyatakan tidak memenuhi syarat).
Memahami Istilah Dasar dalam Sampling
Sebelum masuk ke teknik pengambilan, penting untuk memahami alur dan istilah yang digunakan dalam SNI 19-0428-1998. Terdapat lima tingkatan contoh dalam proses sampling:
| Istilah | Pengertian |
| **Tanding/lot** | Jumlah keseluruhan bahan (populasi) yang akan diwakili oleh contoh |
| **Contoh primer** (*primary sample*) | Contoh yang diambil langsung dari tanding/lot |
| **Contoh campuran** (*composite sample*) | Kumpulan dari beberapa contoh primer |
| **Contoh sekunder** (*secondary sample*) | Contoh yang diambil dari contoh campuran |
| **Contoh laboratorium** (*laboratory sample*) | Bagian akhir contoh yang dikirim ke laboratorium untuk diuji |
Selain itu, standar ini membagi bentuk bahan menjadi dua kategori besar:
- Bentuk curah: padatan berupa serbuk atau butiran (misalnya tepung, biji-bijian, garam)
- Bentuk terkemas: padatan maupun cairan yang sudah dikemas dalam kemasan kecil (misalnya sachet, botol, kaleng)
Perbedaan bentuk ini menentukan alat dan cara pengambilan contoh yang digunakan.
Peralatan Pengambilan Contoh
SNI 19-0428-1998 mensyaratkan bahwa alat pengambil contoh harus bersih, kering, dan terbuat dari bahan yang*tidak memengaruhi sifat kimia contoh. Ada tiga kategori alat yang umum digunakan:
- Alat Bentuk Tombak
1.1 Tombak tunggal:
berujung runcing, cocok untuk mengambil contoh dari karung goni atau karung polyethylene. Contoh keluar dari pangkal tombak setelah ditusukkan.
1.2 Tombak ganda:
terdiri dari dua lapis logam dengan beberapa lubang (3–4 buah) di sepanjang batangnya, dilengkapi pegangan berbentuk T. Cara kerjanya: tombak ditusukkan ke dalam karung, kemudian pipa bagian dalam diputar sehingga bahan berupa bubuk atau butiran kecil masuk melalui lubang-lubang tersebut. - Alat Bentuk Sekop
Digunakan untuk mengambil contoh berbentuk curah, tersedia dalam dua varian: sekop bergagang pendek dan sekop bergagang panjang, disesuaikan dengan kondisi tumpukan bahan. - Alat Pengambil Contoh Otomatis
Untuk kebutuhan skala besar, dapat digunakan alat seperti pasak vakum yang bekerja dengan prinsip penyedotan, mirip pembersih vakum, khusus untuk bahan berbentuk curah.
Prosedur Pengambilan Contoh
Prosedur pengambilan contoh dibedakan berdasarkan kondisi bahan: apakah masih berada dalam alat pengangkut/lini produksi, atau sudah berada dalam tumpukan/gudang. Prinsip umum yang berlaku: pengambilan dilakukan di tempat yang terlindung dari faktor-faktor yang dapat memengaruhi mutu contoh.
- Bahan Berbentuk Curah
- Dalam alat pengangkut atau lini produksi
Contoh diambil pada saat bahan sedang bergerak melalui saluran pengangkut, dari ruang produksi ke gudang atau sebaliknya. Pengambilan dilakukan beberapa kali dengan bobot yang kira-kira sama pada periode waktu yang sama, untuk memastikan seluruh rentang waktu produksi terwakili.
- Dalam tumpukan atau gudang
Contoh diambil dari beberapa titik pada seluruh lapisan tumpukan secara acak, dengan bobot yang kira-kira sama pada tiap titik. Jumlah titik pengambilan disesuaikan dengan besar tanding/lot dan jenis uji yang akan dilakukan. - Bahan Berbentuk Terkemas
- Dalam alat pengangkut atau lini produksi
Sama seperti bentuk curah, contoh diambil dari beberapa kemasan pada periode waktu yang sama selama proses pengangkutan.
- Dalam tumpukan atau gudang (karung, karton, atau peti)
Jumlah karung/karton/peti yang harus dibuka ditentukan secara acak menggunakan tabel bilangan acak (Tabel 1 pada standar). Ketentuannya:
Jika jumlah tanding lebih dari 1.000 kemasan, tanding dipecah menjadi kelompok dengan jumlah sama, kemudian diambil sampel dari akar pangkat dua jumlah kemasan (maksimum 30 karung/peti).
Jika jumlah tanding kurang dari 100, jumlah contoh yang diambil mengikuti tabel acuan (Tabel 2), misalnya 5 contoh untuk 11–25 kemasan, 7 contoh untuk 26–50 kemasan, dan seterusnya. - Dalam kemasan kecil
Untuk produk yang sudah dikemas kecil (sachet, botol, kaleng), jumlah contoh yang diambil mengacu pada Tabel 3 (berdasarkan total kemasan kecil yang ada) dan Tabel 4 (jumlah maksimum yang diambil dari tiap karton), lalu pemilihan karton yang dibuka dilakukan secara acak menggunakan tabel bilangan acak.
Penanganan dan Penyajian Contoh
Setelah contoh primer terkumpul, cara penanganannya berbeda tergantung tujuan pengujian.
Untuk Uji Mikrobiologi
Pengambilan dilakukan menggunakan alat jenis tombak yang **steril**, dan contoh harus segera dimasukkan ke dalam wadah secara aseptik untuk mencegah kontaminasi mikroba dari luar. Kehati-hatian di tahap ini sangat menentukan validitas hasil uji, karena kontaminasi sekecil apa pun dapat memberikan hasil yang menyesatkan.
Untuk Uji Kimia: Metode Kuartering
Inilah bagian yang paling sering ditanyakan pelajar pemula: bagaimana cara mengecilkan contoh dalam jumlah besar menjadi contoh laboratorium yang representatif tanpa mengubah komposisinya? Jawabannya adalah **metode kuartering (quartering)**, sebagaimana diatur dalam SNI 19-0428-1998 poin 6.1.2.
Skema tahapannya dapat dilihat pada diagram di atas, dengan langkah kerja sebagai berikut:
- Bentuk tumpukan kerucut** — Contoh campuran yang telah terkumpul ditumpuk secukupnya membentuk kerucut di atas permukaan yang bersih dan kering.
- Ratakan dan bagi empat** — Tumpukan diratakan hingga berbentuk pipih, kemudian dibagi menjadi empat bagian yang sama besar menggunakan alat pembagi berbentuk silang ("kayu pembagi segi empat").
- Ambil dua bagian berlawanan** — Dua bagian yang letaknya berhadapan (diagonal) diambil dan digabungkan, sedangkan dua bagian lainnya dibuang.
- Gabung dan ulangi** — Dua bagian yang diambil dicampur dan diaduk hingga rata, lalu diratakan kembali dan dibagi empat seperti proses pertama. Tahapan ini diulang terus-menerus dari dua sudut yang berlawanan hingga diperoleh bobot contoh yang diperlukan untuk diperiksa di laboratorium.
Prinsip di balik metode ini sederhana: dengan selalu membuang pasangan bagian yang berhadapan secara diagonal (bukan asal-asalan), distribusi partikel dalam contoh akhir tetap proporsional terhadap contoh awal, sehingga hasil pengujian tetap mewakili keseluruhan bahan meski jumlahnya sudah jauh lebih kecil.
Setelah bobot contoh tercapai:
- Contoh dimasukkan ke dalam wadah yang bersih, kering, dan tidak menyebabkan perubahan pada contoh
- Wadah ditutup rapat dan disegel
- Contoh diberi label berisi tanggal pengambilan dan keterangan lain sesuai ketentuan yang berlaku, lalu dikemas agar terlindung selama pengangkutan
Penanganan Contoh dalam Kemasan
Untuk produk yang sudah dalam kemasan kecil, masing-masing kemasan yang terpilih sebagai contoh laboratorium disatukan sehingga diperoleh dua karton/peti sesuai bentuk kemasan aslinya. Contoh laboratorium ini kemudian dikemas dan diberi label dengan cara yang sama seperti contoh curah.
Dua hal berikut wajib diperhatikan agar proses sampling tetap sah secara hukum dan teknis:
- Untuk bahan yang memiliki peraturan khusus (misalnya kandungan pestisida), pengambilan contoh harus mengikuti ketentuan-ketentuan tambahan yang berlaku untuk bahan tersebut.
- Pengambilan contoh harus dilakukan oleh badan hukum yang berwenang, bukan sembarang pihak, agar hasil uji dapat dipertanggungjawabkan secara legal.
Menguasai teknik sampling bukan sekadar soal "mengambil sedikit dari yang banyak", melainkan memastikan bagian kecil yang diambil benar-benar mencerminkan karakteristik keseluruhan bahan. SNI 19-0428-1998 memberikan kerangka kerja yang jelas—mulai dari pemilihan alat, cara pengambilan contoh primer, hingga teknik pengecilan contoh melalui metode kuartering—yang menjadi fondasi penting sebelum data hasil uji laboratorium bisa dipercaya.
Bagi pelajar yang baru memulai, memahami alur "tanding/lot → contoh primer → contoh campuran → contoh sekunder → contoh laboratorium" beserta metode kuartering di atas adalah langkah pertama yang solid sebelum mempelajari teknik sampling yang lebih spesifik untuk komoditas tertentu. atau untuk lebih jelas mengenai teknik sampling contoh padat bisa dilihat pada slide berikut
---
*Artikel ini disusun berdasarkan SNI 19-0428-1998, Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan, yang merupakan revisi dari SNI 19-0428-1989.*
Teknik sampling contoh padatan
Dua referensi dalam satu tempat: teks resmi standar dan materi pelatihan yang menjelaskannya langkah demi langkah.
1998
Naskah asli Standar Nasional Indonesia — Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan.
Buka di tab baruSlide pelatihan yang menerjemahkan standar ke praktik lapangan: peralatan, tabel acuan, metode kuartering, hingga studi kasus.
Buka di tab baru