BSPJI Bandarlampung Menggelar Pelatihan Petugas Pengambil Contoh (PPC)
BSPJI Bandarlampung kali ini memberikan pelatihan internal bagi pegawai dilingkungan laboratorium pengujian lingkungan terkait teknik pengambilan contoh air yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Januari 2026 sebelum selanjutnya dilakukan sertifikasi BNSP terkait kompetensi personil sebagai PPC ( Petugas Pengambil Contoh). Berikut materi singkat mengenai Teknik Pengambilan Contoh Air
Air merupakan senyawa kimia istimewa (H2O) yang esensial bagi kehidupan. Namun, seiring meningkatnya pencemaran perairan, upaya pengelolaan kualitas air menjadi sangat krusial. Di Indonesia, pengelolaan ini diatur ketat melalui berbagai regulasi seperti UU No. 7 Tahun 2004, PP No. 82 Tahun 2001, PP No. 22 Tahun 2021, hingga Permenkes No. 2 Tahun 2023.
Untuk mengetahui mutu suatu badan air, analisis di laboratorium mutlak diperlukan. Namun, hasil laboratorium tidak akan berarti apa-apa jika teknik pengambilan sampel (sampling) di lapangan tidak dilakukan secara benar dan representatif. Artikel ini akan mengupas tuntas teknik sampling air berdasarkan SNI 8995:2021, lengkap dengan simulasi penentuan titik, peralatan kedalaman, serta rekomendasi layanan laboratorium terpercaya.
Dasar Teknik Sampling Menurut SNI 8995:2021
Berdasarkan SNI 8995:2021, sampling air harus disesuaikan dengan tujuan (rona awal, pemantauan, investigasi, dll), matriks sampel, dan parameter uji. Metode sampling dibagi menjadi:
- Grab Sampling: Pengambilan sampel sesaat pada satu lokasi tertentu.
- Composite Sampling: Pengambilan sampel gabungan, baik berdasarkan waktu (composite waktu) maupun berdasarkan lokasi (composite lokasi).
- Integrated Composite Sampling: Campuran sampel sesaat dari titik/lokasi berbeda pada waktu yang sama.
- Automatic/Continuous Sampling: Menggunakan alat otomatis yang terprogram.
Hal Krusial dalam Penentuan Titik Sampling
SNI 8995:2021 mengatur bahwa titik pemantauan kualitas air umumnya dilakukan pada:
- Sumber air alamiah (jarang tercemar).
- Sumber air tercemar (setelah menerima limbah).
- Sumber air yang dimanfaatkan (titik penyadapan).
- Lokasi masuknya air ke waduk/danau.
- Simulasi Teknik Penentuan Titik Sampling dan Cara Menghitungnya
Untuk memahami bagaimana SNI 8995:2021 diterapkan, berikut dua skenario penentuan titik sampling beserta cara menghitungnya
- Simulasi 1: Sampling Air Sungai yang Menerima Limbah Industri
Sebuah pabrik membuang limbahnya ke Sungai X. Kita ingin mengetahui kualitas sungai sebelum dan setelah tercampur dengan limbah.
Titik 1 (Upstream): Diambil 50 meter sebelum titik pembuangan limbah. (Sebagai kontrol kualitas air alami).
Titik 2 (Titik Pencampuran/Outfall): Persis pada titik pembuangan limbah.
Titik 3 (Downstream): Diambil beberapa meter setelah titik pencampuran. Mengapa tidak langsung di titik 2? Karena air limbah butuh waktu untuk bercampur homogen dengan air sungai.
Cara Menghitung Jarak Titik Downstream (Titik 3):
Untuk memastikan campuran sudah homogen, laboratorium lingkungan sering menggunakan pendekatan zona pencampuran. Misalnya, lebar sungai 10 meter dan kedalaman rata-rata 2 meter, dengan kecepatan aliran 0.5 m/detik.
Jika regulasi atau RKL-RPL menetapkan bahwa sampling harus dilakukan setelah zona pencampuran selesai (misal diasumsikan 5 menit setelah pembuangan),
maka: Jarak = Kecepatan Aliran × Waktu Pencampuran
Jarak = 0.5 m/detik × (5 menit × 60 detik)
Jarak = 0.5 × 300 = 150 meter.
Maka, Titik 3 harus diambil 150 meter di hilir titik pembuangan. Selain itu, sampel harus diambil pada aliran terbesar dan tidak di genangan air.
- Simulasi 2: Sampling Air Sumur Pantau (Groundwater)
SNI mensyaratkan bahwa untuk sumur pantau (akuifer tertekan/tidak tertekan), sampel air yang diambil harus merupakan air segar (fresh sample) yang mewakili kondisi akuifer, bukan air yang mengendap lama di dalam pipa sumur.
Cara Menghitung Volume Pengurasan (Purging):
Aturan SNI menyebutkan bahwa sumur harus dikuras sebanyak 3 kali volume air yang ada di dalam sumur sebelum sampling.
Misalkan diameter sumur pantau = 2 inci (0.0508 meter).
Kedalaman air statis di dalam sumur (dari permukaan air ke dasar sumur) = 10 meter.
Volume air dalam sumur = Luas Penampang × Kedalaman Air
Luas Penampang = π × r² = 3.14 × (0.0508/2)² = 0.002025 m²
Volume = 0.002025 m² × 10 m = 0.02025 m³ = 20.25 Liter.
Volume yang harus dikuras (Purging) = 3 × 20.25 Liter = 60.75 Liter.
Setelah membuang 60.75 Liter air, petugas menunggu air baru naik (maksimal 24 jam), memastikan parameter fisika (pH, suhu, DHL) sudah stabil, baru sampel diambil.
Teknik Sampling Spesifik per Jenis Air
- Air Sungai:
Hadapkan diri searah aliran air. Hindari kontaminasi dari permukaan atau dasar sungai. Jika sungai bermuara, pilih tempat yang tidak dipengaruhi pasang surut. - Air Laut:
Perhatikan kondisi pasang surut. Gunakan alat khusus kedalaman dan hindari kontak dengan dasar laut agar endapan tidak teraduk. Kedalaman sampling plankton ditentukan menggunakan Secchi Disk. - Air Sumur:
Sumur Gali: Ambil 20 cm di bawah permukaan air.
Sumur Bor (Pompa Tangan/Keran): Ambil pada keluaran keran.
Sumur Pantau: Lakukan pengurasan (seperti simulasi 2 di atas). - Air Keran (Tap Water):
Biarkan air mengalir ± 5 menit sebelum diambil untuk memastikan sampel adalah air segar dari sumbernya, bukan air yang mengendat di pipa. - Air Baku/Proses dan Limbah:
Untuk efisiensi IPAL: Ambil di Inlet (bak ekualisasi) dan Outlet (end pipe treatment).
Untuk air proses: Ambil di bak kontrol sebelum masuk pipa gabungan.
Jenis peralatan Sampling Air Kedalaman
Pengambilan sampel air tidak bisa hanya menggunakan ember sembarangan. Berdasarkan referensi dari berbagai laboratorium uji lingkungan terkemuka di Indonesia (seperti yang diadopsi oleh Sucofindo, SIG, dan SGS), alat sampling harus bersifat inert (tidak bereaksi dengan sampel), mudah didekontaminasi, dan tidak mudah pecah.
Untuk pengambilan air pada kedalaman tertentu, SNI 8995:2021 merekomendasikan peralatan berikut:
- Van Dorn Water Sampler:
Alat berbentuk silinder horizontal yang dioperasikan secara manual. Sangat cocok untuk pengambilan sampel air sungai, danau, laut, atau bak limbah pada kedalaman tertentu. Cara kerjanya dengan menjatuhkan messenger (pemberat) agar kedua katup tertutup rapat di kedalaman yang diinginkan. - Niskins Water Sampler (Go-Flo):
Mirip dengan Van Dorn namun instalasinya vertikal. Sering digunakan untuk perairan yang lebih dalam seperti laut dan waduk. - Bailer Water Sampler:
Berbentuk tabung memanjang dengan katup bawah. Dioperasikan manual dan sangat ideal untuk sumur dengan diameter kecil (sumur pantau). - Grab Water Sampler:
Digunakan untuk sumur dengan diameter sedang. - Secchi Disk:
Cakram besi berwarna kontras hitam-putih yang diturunkan ke dalam air untuk mengukur tingkat kecerahan/kekeruhan perairan (dalam satuan meter). - Filtrasi Air (Filter Disc & Vacuum Pump):
Digunakan in situ untuk memisahkan logam terlarut. (Sampel air disaring dulu, baru diawetkan untuk logam terlarut; berbeda dengan total logam yang langsung diawetkan).
Pengawetan juga sangat penting. Wadah harus sesuai (HDPE, Kaca Amber, PP, atau Steril). Pemberat alat harus berjarak minimal 1 meter dari sampler agar tidak mengaduk endapan dasar.
Aspek K3 dan Pengendalian Mutu (QC) Lapangan
Sebagai Personel Pengambil Contoh (PPC), K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) adalah prioritas. Gunakan APD lengkap, jangan merokok/makan saat sampling, hindari penggunaan parfam/lotion yang bisa mempengaruhi sampel organik, serta perhatikan lingkungan sekitar dari bahaya serangan hewan berbisa.
Selain itu, QC lapangan yang wajib dilakukan dalam melakukan sampling adalah:
- Field Blank: Aquadest dibawa ke lapangan, dibuka tutupnya saat sampling, lalu dianalisis untuk mengukur kontaminasi udara di lapangan.
- Trip Blank: Aquadest + spike analat yang dibawa bolak-balik Lab-Lapangan-Lab untuk mengukur kontaminasi perjalanan.
- Equipment Blank: Aquadest bilasan dari alat sampling sebelum dipakai, untuk memastikan alat bersih dari kontaminan.
Solusi Sampling Terintegrasi 3M (Mudah, Murah, Mewakili)
Melihat kompleksitas regulasi, perhitungan titik, hingga penyediaan alat kedalaman yang mahal dan Kalibrasi yang ketat, industri maupun pelajar seringkali membutuhkan mitra yang tepat untuk pekerjaan ini. BSPJI Bandarlampung hadir sebagai layanan laboratorium uji lingkungan yang siap menjadi solusi kebutuhan sampling dan analisis Anda. Dengan tenaga ahli yang memahami penerapan SNI 8995:2021 secara mendalam, BSPJI Bandarlampung menyediakan layanan pengambilan contoh uji (sampling service) untuk berbagai kebutuhan industri maupun personal untuk memberikan hasil yang akurat seperti :
- Sampling Lingkungan: Air (sungai, laut, sumur, keran, air baku/proses), Udara ambien, dan Tanah.
- Sampling Produk Jadi: Mendukung industri lokal hingga nasional dengan sampling aneka produk seperti kopi, garam, gula pasir, tepung tapioka, dan berbagai produk agrikultur/manufaktur lainnya.
Didukung peralatan modern (seperti Van Dorn, Bailer, multimeter terkalibrasi) dan kepatuhan mutu yang tinggi (QC Lapangan terpadu), BSPJI Bandarlampung memastikan setiap sampel yang diambil benar-benar representatif dan sah secara hukum untuk pelaporan AMDAL, RKL-RPL, maupun uji mutu produk.
Teknik sampling air bukan sekadar mengambil air dan memasukkannya ke botol. Ini adalah sains terapan yang membutuhkan pemahaman regulatori, hidraulika badan air, serta kepatuhan pada SOP. Dengan mengacu pada SNI 8995:2021 dan mempercayakan pekerjaan pada laboratorium bersertifikat seperti BSPJI Bandarlampung, data kualitas air yang dihasilkan akan menjadi fondasi kuat bagi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
